18 March 2025

Menghadapi Silent Treatment: Pelajaran yang Diperoleh dari Pengalaman Pribadi

Mendapatkan perlakuan 'Silent treatment' yang berulang, kini sudah cukup menyadarkanku bahwa: aku adalah itu juga- I am that!, aku mengakui pernah melakukan juga Silent Treatment ke orang lain.

Hai guys... Ini akan jadi catatan panjang dalam perjalanan kesadaranku saat ini. Setelah mengalami beberapa kali kejadian, hari ini pukul 06.06, Senin tanggal 18 Maret 2025, akhirnya ku tuliskan di sini.  

Silent treatment, atau perlakuan diam serba salah, adalah sebuah fenomena yang sering terjadi dalam hubungan manusia, baik itu dalam pertemanan, keluarga, ataupun percintaan. Sering kali, orang yang menerima perlakuan ini merasa bingung, terluka, dan bahkan merasa terisolasi, merasa bersalah (padahal gak ada yang salah sebenernya), merasa dibuang, at least itu yang aku rasakan... akumulasi dari perlakuan 2 orang yang melakukan silent treatment kepadaku. 

Kejadian di Orang Pertama: Tahu gak apa yang pertama kali terlintas dalam pikiranku? Secara alami dalam hatiku bilang "Emang aku salah apa?" Nggak jelas karena tiba-tiba orangnya diem aja gak ngasih penjelasan. Ketika bertemu yang sebelumnya salam sapa dan riang, menjadi buang muka, ketika hendak disapa pura-pura gak lihat. Aku juga nggak berani membuka komunikasi, setidaknya menanyakan apa yang menyebabkan dia melakukan itu. :(

Kejadian di Orang Kedua: Ini sudah jelas penyebabnya. Aku mengkomunikasikan ketidaknyamananku sendiri terhadap kondisi di lingkungan tempat kami tinggal. Lalu orang ini merasa aku meyalahkan dia padahal dia diem aja/tidak melakukan apapun/tidak melakukan kesalahan yang merugikan lingkungan kami ( alias dia merasa gak ada sangkut pautnya dengan apa yg aku bicarakan), tapi dia ngerasa aku menyerangnya. Maka, dia lakukan silent treatment kepadaku. 

Pertama, aku heran, kok bisa dia playing victim bahwa aku menyerang dia, padahal yang dirugikan dengan kondisi di lingkungan kami tinggal tuh aku. Intinya, komplenanku dianggap menyerang Orang Kedua ini. 

Setelah mengalami 2x silent treatment sendiri, aku baru benar-benar menyadari betapa dalam dampaknya, serta bagaimana hal itu pernah aku lakukan kepada pasangan di masa lalu. Hiks (nanti ini aku ceritakan juga di bawah)



Apa Itu Silent Treatment?

Silent treatment adalah bentuk komunikasi non-verbal di mana seseorang memilih untuk tidak berbicara atau memberi respons terhadap orang lain. Ini bisa terjadi dalam berbagai bentuk, seperti menghindari kontak mata, mengabaikan panggilan, atau bahkan tidak menanggapi pesan. Meskipun sering kali terlihat sepele, silent treatment bisa menjadi cara yang sangat menyakitkan untuk mengungkapkan perasaan marah, kecewa, atau frustrasi terhadap seseorang.

Bagi orang yang menerima silent treatment, perasaan yang muncul bisa sangat kompleks. Seseorang yang diberi perlakuan ini mungkin merasa bingung, cemas, atau bahkan merasa diabaikan. Rasanya seperti ada tembok yang terbentuk antara diri kita dan orang lain, membuat kita merasa tidak dihargai atau tidak diperhatikan.

Penyebab Seseorang Melakukan Silent Treatment

Ada banyak alasan mengapa seseorang memilih untuk melakukan silent treatment. Beberapa di antaranya termasuk:

  1. Menghindari Konflik
    Beberapa orang merasa tidak bisa menghadapi konflik secara langsung dan memilih untuk tidak berbicara sebagai cara untuk menghindari ketegangan atau perdebatan. Mereka mungkin tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan mereka dengan cara yang sehat dan memilih untuk diam sebagai bentuk "perlindungan diri."

  2. Perasaan Tersakiti atau Kecewa
    Ketika seseorang merasa tersakiti atau kecewa, mereka mungkin merasa terlalu emosional untuk berbicara. Dalam keadaan ini, diam bisa menjadi mekanisme pertahanan untuk melindungi diri dari lebih banyak rasa sakit atau rasa malu.

  3. Kekurangan Keterampilan Komunikasi
    Tidak semua orang diajarkan keterampilan komunikasi yang sehat sejak kecil. Sebagai hasilnya, mereka mungkin tidak tahu bagaimana cara berbicara atau menyelesaikan masalah secara konstruktif, dan memilih untuk menarik diri dalam keheningan sebagai cara untuk "menyelesaikan" masalah, meski justru menciptakan jarak yang lebih jauh.

  4. Menunjukkan Ketidaksukaan atau Menghukum
    Dalam beberapa hubungan yang kurang sehat, silent treatment bisa menjadi cara seseorang untuk mengendalikan atau menghukum pihak lain. Ini adalah bentuk manipulasi emosional yang berbahaya, di mana orang yang memberi silent treatment merasa bahwa diam akan memaksa orang lain untuk mengakui kesalahan mereka atau melakukan apa yang mereka inginkan.

Refleksi Diri: Saat Mengalami Silent Treatment

Saat aku mengalami silent treatment dari orang lain, perasaan yang muncul sangatlah berat. Rasanya seperti terjebak dalam ruang, dimana komunikasi yang biasanya menjadi jembatan antara dua orang kini hilang begitu saja. Tidak ada kejelasan, hanya rasa bingung yang terus mengganjal. Walaupun ketika kutanyakan ke diri sendiri apakah aku mengalami kerugian saat mendapatkannya? Jelas enggak, sih.

Ini yang aku lakukan untuk mengatasinya:

  • Don't Take it Personaly

1. Kurang-kurangi merasa bersalah: Silent treatment seringkali digunakan sebagai bentuk manipulasi atau kontrol, jadi perasaan bersalah atas tindakan orang lain itu, kini kuubah, dissipate dan ku-release. Aku ikhlaskan perlakuan orang terhadapku. Karena aku 'kan nggak bisa kontrol perilaku orang. :)

2. Kurangi merasa terluka: Aku memilih untuk tidak merasa terluka atau tersakiti oleh tindakan orang lain. Tentu saja setelah aku mengakui keberadaan rasa bersalah itu. Aku bilang ke diri sendiri: nggak papa sebentar ngerasa bersalah, it's ok.

  • Tetap Tenang dan Sabar, Tidak Reaktif

1. Tetap tenang: aku tidak membiarkan emosi ku terpengaruh oleh tindakan orang lain terlalu lama. Tidak berlarut-larut dalam emosi. Setelah menerima semua rasa yang hadir, aku mengambil jalan untuk tidak reaktif dan tetap tenang. Move on dan melanjutkan berkarya.

2. Sabar: aku memilih memberikan waktu dan ruang bagi orang lain untuk memproses emosi mereka sendiri. 

  • Tidak Mencoba Mengubah Orang Lain

1. Jangan mencoba mengubah orang lain: Kita tidak dapat mengubah perilaku orang lain, yang kita dapat mengubah cara kita merespon fenomena dan mengubah cara pandang terhadap pilihan sendiri.

2. Fokus pada diri sendiri: aku memutuskan fokus pada kebutuhan dan perasaan ku sendiri. Menata hati sendiri. Dan memberikan kebutuhan yang-aku-ingin-dapatkan-dari-orang-lain, kuberikan kepada diri sendiri.

  • Berkomunikasi dengan Jelas

1. Berkomunikasi dengan jelas: Jika aku merasa perlu, berkomunikasi dengan jelas dan tegas tentang perasaan dan kebutuhan ku. Namun aku saat ini memilih untuk gak komunikasi dulu ke 2 orang tersebut, dan itu nggak papa. Aku berbaik hati sama diriku sendiri. Aku juga mau kasih ruang dan waktu untuk diriku sendiri.

2. Tetapkan batasan: Tetapkan batasan yang jelas tentang apa yang dapat dan tidak dapat tolerir. Sejauh ini nggak merugikan apapun sih di aku, jadi yaudah jalanin dulu aja.

  • Mencari Solusi

Jika silent treatment berlanjut, mencari solusi bersama-sama, seperti konseling atau mediasi. Dan jika silent treatment berlanjut dan menyebabkan kerugian emosional, mengakhiri hubungan mungkin merupakan pilihan terbaik. Yang terakhir masih jadi pilihanku sampe sekarang. Yang tadinya suka bertemu sekedar ngobrol, chating, ngopi bareng, mulai sekarang aku udah melepaskan. Let it go. Orang datang adn pergi dalam kehidupan itu biasa. Semua teman ada masanya, semua masa ada temannya. Gitu aja. Bukan separasi, tapi ini pilihan.


Dengan kejadian ini, aku bisa melihat bagaimana victim mentality itu masuk secara nggak sadar. Karena sudah menyadarinya, jadi aku nggak menyalahkan orang lain  dan nggak menyalahkan diri sendiri. At least aku sadar ketika aku berada pada kondisi Victim Mentality sehingga bisa lekas kuubah ke vibrasi yang lebih tinggi.




Menyadari bahwa Aku juga Pelaku Silent Treatment itu Sendiri

Dan seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari bahwa pengalaman ini bukan hanya sekadar tentang apa yang dilakukan orang lain padaku. Ini juga mengingatkanku pada bagaimana aku pernah melakukan hal serupa, terutama dalam hubungan dengan suami di 10 tahun pertama pernikahan. Ketika aku tidak bisa berkomunikasi dengan pasangan dengan baik, aku frustasi, aku stress, aku sering kali memilih untuk diam, bukannya menghadapi masalah secara langsung. Aku menenangkan diri dengan diam, karena kalo berbicara dan mengungkapkan perasaan tuh aku nggak bisa kontrol emosi, pasti ngomongnya sambil nangis-nangis. Struktur kalimat juga tidak tertata. :( Dan pada saat itu aku malu kalo nangis (karena dulu masih memegang POV kalo nangis=cengeng=lemah).

Aku dididik di keluarga yang nggak terbuka dan kurang dalam berkomunikasi. Orang tua jaman dulu, kolot dan bapakku patriarki banget. Yang selalu terngiang-ngiang adalah: "ANAK PEREMPUAN MANUT AJA!" "Anak kecil gak tau apa-apa diam aja, ya!" "Orang Jawa tuh nrimo aja." "Jangan menentang ucapan laki-laki." Bapakku kalo ibu melawan pasti ngamuk dan main tangan, dan itu kebawa. Aku takut kalau aku membantah perkataan aku akan dipukuli suami.

Dampaknya, aku kesulitan berkomunikasi dengan orang lain, termasuk teman, guru, dan keluarga. Kurangnya kepercayaan diri dalam berbicara dan atau berbagi pendapat. Kesulitan mengungkapkan emosi pula. Selalu dipendam sendiri. 

Dan efeknya adalah menyebabkan aku (dahulu) kesulitan dalam mengelola stress dan emosi. Makanya di 10 tahun pertama pernikahan, aku strugle banget soal komunikasi sama Abudi. Merasa pendapatku tidak pernah didengar. Soalnya kalau aku mau ngomong tuh selalu langsung dipotong, suami lebih banyak ngomong. Dan aku sekarang paham kalau suamiku juga punya inner child yang sama. Gak pernah didengerin sama orang tuanya. Abudi pun sama aja jadinya, melakukan silent treatment kepadaku (btw aku baru menemukan/mengingat fakta ini setelah barusan ngobrol dan bertanya sama Abudi, apakah aku sering melakukan silent treatment kepadanya dulu). 

Mendiamkan apabila kami berdua habis cek cok bertengkar. Kami sama-sama diam, lebih tepatnya yang aku sadari sekarang, kami sama-sama mengambil waktu untuk sendiri, untuk menurunkan emosi sekaligus supaya tidak memperparah keadaan.

10 tahun pertama pernikahan aku merasa sendiri dalam segala hal (padahal Abudi tuh kurang bantuin apa dalam hal mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga, beliau family man banget :) ). Aku sering nangis sendiri di kamar mandi, kesulitan mengelola emosi dan stress karena capek ngurus anak-anak. Sering menyalahkan diri sendiri karena merasa belum menjadi ibu yang baik.

Dari kejadian ini, aku sadar bahwa silent treatment bukanlah cara yang sehat untuk menyelesaikan konflik. Bahkan, sering kali itu justru memperburuk keadaan. Dalam hubungan apapun, komunikasi adalah kunci. Tanpa komunikasi, pemahaman satu sama lain menjadi sangat sulit.

Hingga akhirnya pada tahun 2018-2019 aku memilih untuk mengubah pint of view dan keputusan-keputusan yang kuambil. Layer demi layer, sedikit demi sedikit seperti mengupas lapisan bawang aku mengubah cara pandangku akan kehidupan. 



Bagaimana Menyikapi Silent Treatment?

Ketika kita menghadapi silent treatment, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menghadapinya dengan cara yang lebih sehat:

  1. Berusaha Memahami Penyebabnya
    Cobalah untuk memahami mengapa seseorang melakukan silent treatment. Apakah mereka merasa terluka atau kesal? Apakah mereka sedang menghindari konflik? Dengan mencoba untuk melihat dari perspektif mereka, kita dapat menanggapi dengan lebih empatik.

  2. Beri Ruang untuk Emosi
    Kadang-kadang, orang perlu waktu untuk meredakan emosi mereka sebelum bisa berbicara. Memberi ruang tanpa terburu-buru meminta penjelasan dapat membantu mendinginkan situasi. Namun, ini bukan berarti kita harus diam selamanya. Kalau aku dan Abudi, sehari dua hari juga udah baikan lagi.

  3. Berbicara Secara Terbuka
    Ketika situasinya memungkinkan, cobalah untuk mengajak orang tersebut berbicara secara terbuka. Ungkapkan perasaan kita tanpa menyalahkan, tetapi lebih kepada mengungkapkan bagaimana kita merasa tentang perlakuan tersebut. Hindari menyerang, dan fokus pada perasaan kita sendiri.                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Ini sudah mulai kulakukan sejak 2019. Aku ngomong sambil nangis tersedu-sedu. Sudah nggak bisa dibendung dengan diam lagi. Jebol sudah emosi yang selama 10 tahun dipendam. Aku bilang dengan lantang: bertengkar tuh gapapa, bukan sesuatu yang salah. Meluapkan emosi tuh gapapa. Meluapkan kemarahan tuh gapapa. Sedih&nangis tuh gapapa, gak berarti cengeng. Beradu argumen antara suami-istri tuh gapapa banget. Membantah perkataan suami tuh gapapa. Jangan larang-larang aku untuk marah, nangis, kecewa, sedih. Stop selalu bilang ke aku untuk selalu sabar dan lemah lembut, biarkan aku ngomel, biarkan aku mengekspresikan apa yang sedang aku rasakan. 

  4. Beri Pengertian dan Kesabaran
    Jika kita adalah orang yang memberi silent treatment, penting untuk mengingat bahwa komunikasi yang terbuka lebih bermanfaat dalam jangka panjang. Jika kita menerima silent treatment dari orang lain, beri mereka waktu untuk merenung, tetapi jangan biarkan mereka terus menghindar tanpa mencari penyelesaian. 

  5. Jaga Diri dan Kesehatan Emosional
    Dalam menghadapi silent treatment, kita utamakan menjaga kesehatan emosional kita sendiri. Jika merasa bahwa perlakuan ini sudah berlebihan dan tidak ada perubahan, penting untuk menetapkan batasan dan berbicara tentang bagaimana perlakuan itu mempengaruhi kita. Ini bisa kulakukan dengan Abudi, namun belum ke orang lain. hehehe aku masih berproses dalam perjalanan kesadaran ini dan it's OK.


Kesimpulan

Silent treatment bisa menjadi salah satu tantangan terbesar dalam hubungan. Pengalaman ini mengajarkan kita bahwa komunikasi adalah pondasi yang sangat penting dalam setiap hubungan, baik itu dengan teman, keluarga, atau pasangan. Ketika kita menghadapinya, kita harus berusaha untuk lebih peka terhadap perasaan orang lain dan tidak ragu untuk membuka komunikasi yang jujur dan terbuka. Silent treatment bukan solusi, dan hanya melalui komunikasi yang baiklah kita bisa memahami dan menyelesaikan masalah yang ada.


Semoga artikel ini dapat memberi perspektif dan pemahaman baru bagi siapa saja yang sedang menghadapinya. Jika ada pertanyaan atau hal lain yang ingin dibahas lebih lanjut, jangan ragu untuk berbagi!

0 komentar:

Post a Comment

Hai, terima kasih sudah membaca dan berkomentar. :)
Mohon maaf komentar dimoderasi karena banyak spam yang masuk.